Rabu, 29 Juli 2009

Optimalisasi Perpus IAIN & Layan yang Prima ?

"Problematika perpustakaan IAIN Sunan Ampel yang sangat kompleks seperti ini. Apakah pejabat yang berwenang tidak berbenah diri. Diantara sekian banyak mahasiswa merasa dirugikan dengan problematika kebijakan IAIN tentang perpus."

Perpustakaan merupakan jantung dalam dunia pendidikan. Perpustakaan IAIN adalah salah satu unit terpenting dari perguruan tinggi yang memiliki tanggung jawab turut mengemban terlaksananya tri dharma perguruan tinggi yaitu: pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.
Dalam Undang-undang RI No.2 tahun 1989 tentang system pendidikan nasional menyebutkan bahwa perpustakaan merupakan sumber belajar yang amat penting sekalipun bukan satu-satunya. Sebagai sumber belajar, perpustakaan perguruan tinggi bertugas menyediakan atau mencari, mengolah, menyimpan dan membuka akses bagi pemanfaatan sunber-sunber informasi yang tersedia.
Dalam pedoman perpustaan perguruan tinggi yang dikeluarkan DIKTI "Perpustakaan Perguruan Tinggi wajib menyediakan 80% dari bahan bacaan wajib mata kuliah yang ditawarkan di perguruan tinggi. Masing-masing judul bahan bacaan tersebut disediakan 3 eksemplar untuk tiap 100 mahasiswa.
Sejalan dengan misi tersebut maka perpustakaan IAIN memiliki fungsi Sebagai pusat ilmu pengetahuan dan pusat pembelajaran (library centered teaching), penyedia informasi sesuai dengan ruang lingkup pendidikan (education information centre), penelitian literature (library research), Sebagai sunber inspirasi serta pusat pelestarian berbagai karya ilmiah.
Namun dalam pencapaian peran dan fungsi tersebut tidak sesuai dengan realita yang terjadi di lapangan. Visi dan misi perpustakaan masih belum tercapai dengan optimal. Untuk mendapatkan output alumnus yang bisa bersaing dengan perguruan tinggi lain sebuah institut harus memperhatikan beberapa aspek, di antaranya fasilitas-fasilitas yang mendukung. Perpustakaan IAIN memang mempunyai beberapa fasilitas katalog online (OPAC), layanan internet, layanan audio visual, layanan photo copy, layanan bimbingan pemakai dan layanan-layanan penunjang lainnya. Namun menurut (…… mahasiswa semester delapan jurusan PBI), fasilitas itu tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang ada sehingga tidak semua mahasiswa bisa menggunakannya.
Hal yang sama juga disampaikan Didik mahasiwa fakutas Dakwa, problem-problem yang ada di perpustakaan IAIN hendaknya tidak dipandang sebelah mata oleh pihak institut. Kenyataannya banyak sekali mahasiswa yang enggan ke perpustakaan disebabkan fasilitas yang kurang memadai (jumlah buku tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa), jam operasi kurang serta pelayanan yang kurang memuaskan, belum lagi fasilitas internet yang lamban, kata didik dengan kekesalan.
Pegawai perpustakaan adalah pengelola perpustakaan yang ditunjuk oleh pusat (Rektorat). Tugas mereka adalah melayani pengunjung perpustakaan dengan baik dan memberi informasi yang jelas bagi mahasiswa yang membutuhkannya. Jika dikaitkan bahwa IAIN adalah sebagai Perguruan Tinggi Islam jadi sudah sewajarnya akhlakul karimah yang dikedepankan. Akan tetapi kondisi yang kontas disampaiak banyak mahaiswa IAIN Suan Ampel.

Waktu operasi disesuaikan jam kantor
Mengenai waktu operasi perpustakaan pimpinan perpustakaan Ali Mas'ud Kholqillah, "masalah waktu perpus disesuaikan jam kantor yaitu dari jam 08.00-15.00 karena pegawai perpus kerjanya paling berat tidak ada waktu istirahat, jika kaitannya dengan jam, ini merupakan kebijakan rektorat." Ali Mas'ud menambahkan "Jika diluar batas jam kerja maka termasuk lembur,jadi akan kembali ke dana yang tidak ada."
Ach. Yasin, jam operasi pelayan perlu adanya penambahan waktu dari perpustakaan. Sekretaris jurausan Siyasah jinaya mengusulkan "hari Sabtu-Minggu dirasa kurang memungkinkah, mungkin kalo Sabtu efektif kuliah mungkin perpus bias mengikuti".
Saat dikonfirmasi masah minimya waktu pelayan perpustakan, Nur Syam selaku Rektor berjanji akan membicarakan masalah tersebut dalam rapat kordinasi jajaran pimpinan fakultas dan juga perpustakan.
"Jika ada penambahan jam pihak perpus tidak keberatan karyawan dsini siap". Ungkap pimpiamperpus pada kami.

Buku-buku baru Sudah sesuaikah?
Dalam sistem pengadaan buku perpustakaan IAIN, yaitu prosedurnya bahwa Panitia di bentuk ketika adanya dana,.Panitia penyeleksi buku terdiri 5 orang dari pihak perpus berdasarkan SK dari rector, berdasarkan masukan dari dosen dan fakultas. Kata Rizalul faqih kepala bagisan PRT.
Pembantu dekan satu fakutlas syriah menjelaskan, Pengadaan buku dilakukan satu tahun sekali, di awal tahun, kalau dulu 2 kali setahun. Mungkin karena masalah dana. Sistem pengadaan bukunya kalau dapat edaran dari panitia, pihak fakultas mencatat buku apa saja diperlukan. Judul buku 5 dan eksempar sesuai dengan kebutuhanya jadi setiap penggadaan jumlahnya tidak tentu. Di rektor sudah ada lampiran mata kuliah/ kurikulum beserta buku yang di perlukan. jadi ketika ada usulan buku baru,baru terealisasi tahun depan.
Mengenai konfirmasi judul buku adalah hubungan koordinasi antara PD I dengan perpustakaan. kami pihak jurusan tidak melakukan konfirmasi secara formal, namun hanya secara pribadi dalam rangka mengajar kata Ach. Yasin
System pengadaan buku, pihak perpus mengusulkan dan memberikan form kepada dekan selanjutnya diberikan kajur untuk judul, pengarang, penerbit buku yang diperlukan. Jika pihak fakultas tidak merespon "ya buku tetap" karena kita hanya meraba-raba buku yang diperlukan dan dianggap bahwa pihak fakultas tidak memerlukan. Untuk tahun kemaren tidak ada yang merespon, sehingga kita (perpus) ke fakultas masing-masing minta silabi. Tapi silabi di IAIN kan tetap sehingga kita memilah buku yang sekiranya baru. Tegas Ali Mas'ud.
Jumlah buku-buku yang ada di perpustakan minimal 5 untuk koleksi umum, 1 untuk tendon. Jika komponen mata kuliah dari institute minimal 10. urai pimpinan perpustakan. Pengadaan buku dilakukan setiap satu tahun sekali untuk tahun 2009 pada terakhir 29 Juni.
Ali Mas'ud mengaku, untuk masalah up-date buku relative baru, mengenai UU kadang belum ada karena jarak pengadaan bukunya lama. Adanya kendala dalam giliran peminjaman sehingga antara kapasitas dan volume kadang tidak maksimal. Mungkin jumlah buku di tandon harus diperbanyak.

Sentralisasi Perpustakan dan Ruang baca Fakultas
Dalam hal terkait sentralisasi perpus Mansur selaku koordinator tekhnis menceritakan, adanya usulan sentralisasi dimulai sejak 1996-1997 pada masa rector Bapak Jabar Alm. Adanya sentralisasi karena perpus fakultas tidak memenuhi standardnya dan buang-buang dana. Jadi pihak rector memberi kebijakan sentralisasi. Jika ada usulan perpus fakultas beliau menambahkan "nggak ada masalah, malah lebih ringan karena mhasiswa tidak banyak yang ke perpus".
Kendala untuk melahirkan kembali perpustakan fakultas, masih terganjal oleh peraturan rector yang tidak diubah. Bahkan Nursam selaku rector IAIN yang baru menegaskan bahwasanya sentralisasi perpustakan merupakan halyang final.
Hal yang sama juga diungkapkan PD I Syariah. Di institute ada peraturan sentralisasi perpus, jadi pihak fakultas tidak boleh menggadakan perpus fak."tahun dulu ada di ruang 4 namun ketika ada peraturan sentralisasi maka perpustakaan hanya ada satu". Jadi kalau membuat perpus fakultas harus izin, untuk masalah dana, gaji dan tempatnya. Memang sentralisasi perpus banyak kekurangan:kapasitas lebih sedikit karena di pakai beberapa fakultas, bukunya tidak up date namun karena ini peraturan dari institute.
Meskipun gak ada perpus khusus tapi di ruang dosen, akademik mahasiswa boleh pinjam hanya sistemnya tidak seperti perpus. Kalau masalah buku baru karena hokum selalu dinamis misalnya kalau sekarang ada wakaf tunai, Hukum Persengketan Industri, Undang-undang perlindungan saksi dan korban.
Mengenai ruang baca atau perpustakaan di fakultas, Faishal Haq selaku dekan fakultas syariah menanggapi, bahwa untuk sementara ini masalahnya belum ada tenaga untuk petugas perpustakaan itu, disamping juga saya masih meneruskan RKKLnya Abdussalam selaku mantan dekan fakultas syariah, Insya Allah bisa terealisasi tahun depan fak.syariah punya ruang baca atau perpustakaan tersendiri sehingga mahasiswa lebih mudah meminjam buku tentang hukum-hukum dan dapat melihat skripsi karya mahasiswa-mahasiswa yang dahulu.
Adnya ruang baca seperti hanya di Fakultas Dakwah, Adab Didik mahasiwa jurusan Psikologi mencotohkan di fakultasnya terdapat judul buku 332, 454 eksemplar. Untuk pendanan dari iuran mahasiswa. Pengunjung sekitar 5-50 bahkan ada dari fak syari'ah yang berkunjung. masalah iuran tidak di acc DEKAN karena adanya aturan satu pintu sehingga tidak ada iuran lagi. Pembentukan ruang baca ini dikarenakan pengajuan judul yang dilakukan oleh mahasiswa psikologi tidak di realisir oleh perpus pusat.. Buka jam 08.00-15.00 masalah yang jaga dari mahasiswa yang mewakili tiap cosma dan bergilir kalau jam kosong. Peminjaman maksimal 3 hari jika lebih denda Rp.500. dengan uang denda dan print, internet sudah cukup untuk memfasilitasi ruang baca ini.
Kalo difakultas mau diadakan ruang baca atau perpustakan Nur syam membolehkanya. Akan tetapi konsekwensinya harus tanggung pihak fakultas masing-masing. Sepertihanaya pendanan tempat perpus dan pengeloanya, karena pihak Rektorat tidak mau mengeluarkan biya yang dobel dan kita tau angaran kita tidak cukup. Dan IAIN tetap menganut system sentralisasi perpustakan. []Indah, ratna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar